Friday, 4 March 2016

Karya Ilmiah Syarat dan Fungsi Uang



KATA PENGANTAR


       Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayahnyalah akhirnya makalah yang berjudul“Syarat dan Fungsi Uang “ dapat penulis selesaikan.
       Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Ekonomi.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih ada kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Mudah – mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.


Tugumulyo, Februari 2016

Penulis







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan Makalah....................................................................................... 1
1.3 Rumusan Masalah..................................................................................................... 1
1.4 Manfaat Penulisan Makalah..................................................................................... 1
BAB II ISI
2.1 Fungsi Uang................................................................................................................ 2
A. Fungsi Asli Uang.................................................................................................... 2
B. Fungsi Turunan Uang........................................................................................... 3
C.Fungsi Uang Dalam Islam..................................................................................... 4
2.2 Syarat- syarat Uang.................................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 9
3.2 Saran............................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 10

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang Masalah
Uang merupakan alat tukar menukar yang sangat mudah dibawa kemana – mana dan tahan awet. Uang diciptakan untuk mempermudah masyarakat atau manusia dalam jual beli dimanapun berada dan kapanpun berada, karena itu kita harus menggunakan uang dengan sebaik – baiknya.

1.2.    Tujuan Penulisan Makalah
1.    Untuk memenuhi tugas ekonomi
2.    Untuk mengetahui sarat dan fungsi uang
3.    Ingin menambah ilmu pengetahuan

1.3     Rumusan Masalah
1. Adakah syarat dan fungsi uang?
2. Apaka manfaat dari lembaga keuangan?

1.4.    Manfaat Penulisan Makalah
1.    Menambah ilmu pengetahuan
2.    Membuat motifasi kepada kita untuk tidak menghambur – hamburkan Uang











BAB II
ISI

2.1 Fungsi Uang
Dalam dewasa ini uang memiliki peran yang sangat penting dalam dalam kehidupan manusia. Uang merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan. Uang pada awalnya hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi sejalan dengan perkembangan peradaban manusia dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, fungsi uang tersebut telah berkembang dan bertambah sehingga fungsinya menjadi seperti yang dirasakan saat ini. Fungsi uang yang sedemikian penting itu dapat dibedakan menjadi dua yaitu fungsi asli dan fungsi turunan.
A. Fungsi Asli Uang:
1. Uang sebagai Alat Tukar (Medium of Exchange)
Dapat dibayangkan betapa sulitnya hidup di dalam perekonomian modern ini tanpa adanya benda yang digunakan dalam sebagai alat tukar. Apabila tidak ada uang, transaksi hanya dilakukan dengan cara tukar menukar (atau dikenal dengan barter) antara barang yang satu dengan barang yang lain.
2. Uang sebagai Alat Penyimpan Nilai (Store of Value)
Barabg-barang berharga yang dimiliki berupa tanah, rumah, permata, dan benda berharga lainnya. Walaupun kekayuaan dapat disimpan beragam bentuknya, tidak dapat dipungkiri bahwa uang merupakan salah satu pilihan untuk menyimpan kekayaan.
3. Uang sebagai Satuan Hitung (Unit of Account)
Apabila tidak ada satuan hitung yang diperankan oleh uang, dapat dibayangkan kesulitan yang dialami dalam menilai suatu barang. Tanpa adanya satuan hitung, seseorang mungkin akan kesulitan menilai seekor sapi sama dengan dua ekor kambing dan sebaliknya. Dengan adanya uang tukar-menukar dan penilaian terhadap suatu barang akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, dengan uang pertukaran antar dua barang yang berbeda secara fisik juga dilakukan tanpa menghadapi halangan.
B. Fungsi Turunan Uang
Dengan adanya fungsi asli uang, muncullah fungsi-fungsi lain yang disebut fungsi turunan. Fungsi turunan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Uang sebagai Ukuran Pembayaran yang Tertunda (Standard for Deffered Payment)
Fungsi uang ini terkait dengan transaksi pinjam-meminjam; uang merupakan salah satu cara untuk menghitung jumlah pembayaran pinjaman tersebut. Jika meminjam uang sebasar satu juta rupiah selama lima tahun, nilai uang akan lebih berkembang daripada meminjamkan satu ekor kambing dalam waktu yang sama mengingat karena kambing dalam lima tahun mendatang akan berbeda dengan keadaan kambing saat meminjam.
2. Uang sebagai Alat Pembayaran yang Sah (Means of Payment)
Pemerintah menetapkan, bahwa uang itu adalah tanda pembayaran yang sah. Artinya, uang itu harus diterima sebagai alat pembayaran yang sah. Uang berfungsi sebagai alat pembayaran yang dapat diterima oleh semua orang. Misalnya: untuk membayar pajak, gaji, jasa, denda, utang pemberian hadiah, penghargaan atas prestasi seseorang, pembelian barang, dan lain-lain.
3. Uang sebagai Alat Menimbun Kekayaan (Store Value)
Dengan uang seseorang dapat menimbun kekayaan dengan cara membeli tanah, rumah, kendaraan, dan perhiasan. Dengan uang seseorang akan lebih mudah menukarkan suatu barang dengan barang lain yang ia kehendaki.
4. Uang sebagai Penyimpan Tenaga Beli atau Penyimpanan Kekayaan (Store of Value)
Sesorang menyimpan menyimpan uang berarti ia menyimpan tenaga beli yang belum digunakan, sekaligus berarti pula yang bersangkutan menyimpan kekayaan sebesar jumlah uang tersebut.
5. Uang sebagai penyimpan tenaga beli memungkinkan pemiliknya untuk tidak segara menukarkan uang yang dimilikinya tersebut dengan barang-barang atau jasa-jasa apa bila barang atau jasa tersebut belum diperlukan. Hal tersebut karena disamping sebagai peyimpan tenaga beli, uang juga sebagai alat tukar menukar, maka kekayaan yang tersimpan di dalamnya bersifat sangat likuid, yaitu setiap saat uang dapat ditukrkan dengan barang atau jasa apapun yang harganya sebesar jumlah uang yang dimiliki. Dengan perkataan lain, uang adalah kekayaan (aktiva), yang paling likuid dalam arti setiap saat dengen segera dapat ditukarkan dengan barang atau jasa lain tanpa harus mengeluarkan biaya apapun.
Menurut John Maynard Keynes, seorang ahli ekonomi modern, yang mengutarakan teorinya liquidity preference theory bahwa terdapat 3 alasan, sebab, atau motif seseorang atau perusahaan menyimpan uang tunai sebagai berikut: (1) Motif transaksi (transaction mitive), (2) Motif berhati-hati atau berjag-jaga (precautionary motive), dan (3) Motif spekulasi (speculative motive)
Uang sebagai Alat Pembayaran Utang atau Pembayaran yang Ditangguhkan (Payment Of Debt/ Stadart Of Differed Payment)
Dalam fungsinya sebagai alat pembayaran utang maka berati utang akan menjadi lunas apabila dibayar dengan uang. Fungsi ini sangat penting artinya dalam mendorong pertumbuhan perekonomian mengingat bahwa transaksi-transaksi ekonomi yang terjadi selama ini tidak hanya dilakukan dengan pembayaran tunai melainkan juga dilakukan melalui utang atau kredit.
C. Fungsi Uang dalam Islam
Secara fungsional, uang, kata Al-Ghazali adalah “khadimani wa la khadimun lahuma wa muradani wa la yuradhani”. Ia hanya sebagai alat tukar (unit of exchange) dan alat perantara (unit of intermediary or al-wasilah). Maka fungsi uang dalam Islam adalah sebagai berikut:
1. Uang sebagai Ukuran Harga
Abu Uhaid menyatakan bahwa dirham dan dinar adalah nilai harga sesuatu, sedangkan segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga keduanya.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah menciptakan dinar dan dirham sebagai hakim penengah diantara seluruh harta agar seluruh harta bisa diukur dengan keduanya. Dikatakan, unta ini menyamai 100 dinar, sekian ukuran minyak za’faran ini menyamai 100. Keduanya kira-kira sama dengan satu ukuran, maka keduanya bernilai sama.
Ibn Rusyd mengatakan bahw, ketika seseorang susah menemukan nilai persamaan antara barang-barang yang berbeda, jadikan dinar dan dirham untuk mengukurnya. Apabila seseorang menjual kuda dengan beberapa baju, nilai harga kuda itu terhadap beberapa kuda adalah nilai harga baju terhadap beberapa baju. Maka jika kuda itu bernilai 50, tentu baju-baju itu juga harus bernilai 50.
Ibn al-Qayyim mengungkapkan bahwa dinar dan dirham adalah nilai harga barang komoditas. Nilai harga adalah ukuran yang dikenal untuk mengukur harta maka wajib bersifat spesifik dan akurat, tidak meninggi (naik) dan tidak menurun. Karena kalau unit nilai harga bisa naik dan turun seperti komoditas sendiri, tentunya tidak lagi mempunyai unit ukuran yang bisa dikukuhkan untuk mengukur nilai komoditas. Bahkan semuanya adalah barang komoditas.
Uang adalah standar ukuran harga, yaitu sebagai media pengukur nilai harga komoditas dan jasa, dan perbandingan harga komoditas dengan komoditas lainnya. Pada sistem barter, sangat sulit untuk mengetahui harg komoditas dan harga komoditas lainnya. Demikian pula dengan harga jasa terhadap jasa-jasa lainnya. Uang dalam fungsinya sebagai standar ukuran umum berlaku untuk ukuran nilai dan harga dalam ekonomi, seperti belakunya standar meter pada ukuran jarak, atau ampere untuk mengukur tegangan listrik. Demikianlah uang sebagai alat yang mesti diprlukan unuk setiap perhitungan dalam ekonomi baik oleh produsen maupun konsumenn. Tanpa hal itu, tidak mungkin baginya untuk melakukan perhitungan keuntungan atau biaya-biaya.
2. Uang sebagai Media Tranaksi atau Pertukaran
Uang menjadi media ransaksi yang sah yang harus diterima oleh siapapun bila ia ditetapkan oleh negara. Uang adalah alat tukar yang digunakan setiap individu untuk pertukaran barang dan jasa. Fungsi ini sangat penting dalam ekonomi maju, diman pertukuran terjadi banyak pihak. Setiap orang tidak memproduksi setiap apa yang ia butuhkan, tetapi terbatas pada barang tertentu, atau bagian dari barang atau jasa tertentu, yang dijual kepada orang-orang untuk selanjutnya ia gunakan untuk mendapatkan barang atau jasa yang ia butuhkan. Ketika seseorang memproduksi barang kemudian menjualnya dengan mendapatkan uang, selanjutnya ia gunakan untuk membeli kebutuhannya. Dengan demikian, uang membagi pertukaran kedalam dua macam, yaitu (1) Proses penjualan barang atau jasa dengan pembayaran uang, dan (2) Proses pembelian barang atau jasa dengan menggunakan uang.
Uang sebagai Media Penyimpan Nilai
Al-Ghazali berkata:”kemudian disebabkan jual beli, muncul kebutuhan terhadap dua mata uang. Seseorang yang ingin membeli makanan dengan baju, dari mana dia mengetahui ukuran makanan dan nilai baju tersebut, berapa? Jaul beli terjadi pada jenis barang yang berbeda-beda seperti jual baju dengan makanan dan hewan dengan baju. Barang-barang itu tidak sama, maka diperlukan “hakim yang adil”sebagai penegah antara kedua orang yang bertransaksi dan berbuat adil satu dengan yang lain. Keadilan itu dituntut dari jenis harta. Kemudian diperlukan jenis harta yang bertahan lama karena kebutuhan yang terus menerus. Jenis harta yang bertahan lama adalah barang tambang. Maka dibuatlah uang dari emas, perak dan logam.
Ibn Khaldun juga mengisyaratkan uang sebagai alat simpan. Ia menyatakan, kemudian Allah Ta’ala menciptakan dari dua barang tambang, emas dan perak, sebagai nilai untuk setiap harta. Dua jenis ini merupakan simpanan dan perolehan orang-orang di dunia kebanyakannya.
Dari ketiga fungsi tersebut jelaslah bahwa yang terpenting adalah stabilitas uang, bukan bentuk uang itu sendiri, uang dinar yang terbuat dari emas dan diterbitkan oleh Raja Danarius dari Kerajaan romawi memenuhi kriteria uang yang nilainya stabil. Begitu pula uang dirham yang terbuat dari perak dan diterbitkan oleh Ratu kerajaan Sasanid Persia juag memenuhi kriteria uang yang stabil. Sehingga meskipun dinar dan dirham diterbitkan oleh bukan negara Islam, keduanya dipergunakan dizaman rasulullah SAW.
Sedangkan fungsi uang menurut Imam Al-Ghazali mengatakan:”uang dinar dan dirham ibarat cermin dari kepemilikan dan kekayaan. Ia berfungsi sebagai alat tukar. Jika uang dijadikan komoditi sebagaimana barang, maka hancurlah sistem perekonomian masyarakat”.



2.2 Syarat-syarat Uang

Uang diterima dan disepakati oleh masyarakat sebagai alat perantara dalam kegiatan ekonomi. Agar dapat disetujui dan diterima masyarakat, uang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
1.            Ada Jaminan
Setiap uang yang diterbitkan harus dijamin oleh pemerintah. Dengan adanya jaminan dari pemerintah, penggunaan uang untuk berbagai keperluan mendapat kepercayaan dari masyarakat luas.
2.            Diterima Secara Umum (Acceptability)
Artinya uang harus dapat diterima secara umum penggunaannya, baik sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, atau sebagai standar pencicilan utang.
3.            Nilainya Stabil (Stability of Value)
Nilai uang harus stabil. Apabila nilai uang naik-turun tidak menentu, orang pun tidak mau menggunakannya sebagai alat tukar karena ia tidak memercayainya.
4.            Mudah Disimpan (Storable)
Uang harus memiliki fleksibilitas, seperti bentuk fisiknya yang tidak terlalu besar, mudah dilipat, dan memiliki nilai nominal mulai dari yang kecil sampai yang besar. Hal tersebut ditujukan agar uang mudah disimpan.
5.            Mudah Dibawa (Portability)
Coba bayangkan seandainya berat sekeping uang logam mencapai 1 kg dan sebesar piring. Orang pasti tidak bisa leluasa membawa uang tersebut ke mana pun. Oleh karena itu, sebuah uang harus memenuhi syarat mudah dipindahkan dan mudah dibawa ke mana pun. Artinya, uang harus mudah dipindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain.
6.            Tidak Mudah Rusak (Durability)
Orang tentu tidak mau menggunakan uang jika uang tersebut mudah sekali rusak. Uang harus tahan lama, tidak mudah robek, pecah, atau luntur. Oleh karena itu, kualitas fisik uang harus betul-betul dapat dipastikan bertahan untuk jangka waktu yang relatif lama.
7.            Mudah Dibagi (Divisibility)
Uang juga harus mudah dibagi ke dalam berbagai nilai nominal, misalnya Rp100.000,00; Rp50.000,00; Rp1.000,00, dan Rp500,00. Seandainya nilai uang hanya Rp50.000,00 sedangkan untuk membeli satu kilogram jeruk hanya dibutuhkan uang Rp5.000,00, bagaimana dengan kembaliannya? Tentu saja hal tersebut akan menghambat transaksi.









BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Uang merupakan suatu benda yang diterima secara umum oleh lapisan masyarakat sebagai alat perantara untuk mempermudah transaksi atau jual – beli dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Uang dapat dibedakan menjadi uang kartal, uang giral, dan uang quasi. Uang yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam kehidupani sehari – hari disebut uang kartal yang terdiri atas uang logam dan uang kertas.

3.2 Saran – saran
Manusia dalam kehidupan sehari – hari membutuhkan uang, dan uang merupakan alat bayar yang sah karena itu kita jangan sekali – kali melakkan praktek pencucian uang dan pemalsuan uang karena dapat merugikan negara dan memperlambat pertumbukan ekonomi negara kita.










DAFTAR PUSTAKA

http://refiselransun.blogspot.com/

http://deluk12.wordpress.com/makalah-jenis-dan-fungsi-uang/

http://ucu-syarief.blogspot.com/2011/03/makalah-ekonomi
¬¬¬¬¬¬¬¬¬_________tentang-uang.html

Sukuyati dkk, Ekonomi Sekolah Menengah Umum kelas XI, Bandung
_________, 2004.

Thursday, 3 March 2016

Makalah Beternak Ayam Kampung



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun tugas karya ilmiah Budidaya Ternak Unggas tentang  “Beternak Ayam Kampung”.
Karya Ilmiah ini telah diupayakan agar dapat sesuai apa yang diharapkan  dan dengan terselesainya Karya Ilmiah ini sekiranya bermanfaat bagi setiap pembacanya. Karya Ilmiah ini penulis sajikan sebagai bagian dari proses pembelajaran agar kiranya kami sebagai pelajar dapat memahami betul tentang perlunya sebuah tugas agar menjadi bahan pembelajaran.
Selesainya Karya Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan kerjasama berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan rasa syukur yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta ucapan terima kasih kepada : Guru Pembimbing dan Teman teman berkat kerjasamanya sehingga Karya Ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini jauh dari kesempurnaan dan dengan segala kerendahan hati kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga apa yang kita harapkan dapat tercapai. Dan merupakan bahan kesempurnaan untuk karya ilmiah ini selanjutnya. Besar harapan penulis, semoga karya ilmiah yang penulis buat  ini mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.





i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................................. 1
B. Tujuan............................................................................................................................ 1
C. Ruang Lingkup................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pendahuluan................................................................................................................. 2
2.2 Mengenal Ayam Kampung............................................................................................. 3
2.3 Persiapan Beternak........................................................................................................ 3
2.4 Pemeliharaan................................................................................................................ 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 8
3.2 Saran............................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................... 9








Ii
BAB I

PEDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Adapun proses dari beternak ayam kampung dilatar belakangi dengan ayam-ayam kampung yang kurang mendapatkan proses perawatan yang baik dan teratur. Hal ini juga disebabkan oleh faktor lingkungan dan individu masing-masing.

1.2.     Tujuan
Dengan cara-cara yang ada pada karya ilmiah ini, isi yang tercantum pada teks ini tentang cara-cara beternak  ayam kampung, bertujuan agar para peternak lebih baik lagi, supaya ayam-ayam yang diternaki lebih bisa mendapatkan perawatan yang baik.

1.3.    Ruang Lingkup
Dalam ruang lingkup ini, penulis ingin mengurangi masalah-masalah yang terdapat di kalangan peternak ayam kampung.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      PENDAHULUAN

A.    Perkembangan Ayam Kampung
Semula ketika ayam Ras (ayam negri) baru pertama kali di kenal oleh beberapa penduduk Indonesia. Ayam kampung tetap diatas dan nama ayam ras masih timbul tenggelam. Tahun 1972 merupakan titik tolak kebangkitan ayam ras dan namanya kian populer, baik petelur dan pedaging (Broiler). Ayam kampung nyatanya tidak terdesak oleh kehadiran ayam ras.
Beberapa contoh populasi ayam kampung dan ayam ras (x 100) diberbagai daerah dengan tabel.
Propinsi
Ayam Kampung
Ayam Ras
D.I Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Bengkulu
2.675.427
5.571.154
2.939.186
1.809.861
935.434
40.908
182.464
974.061
32.302
110.370

B.     Ayam Buras dan Ayam Kampung
Berbagai penelitian lokal dilakukan dilembaga pendidikan tinggi, celakanya istilah ayam digunakan untuk menggunakan istilah ayam kampung. Ayam kampung sebagai anggotanya yang terbanyak, sebagai pengertian ayam kampung sebagai wilayah potensi pengembangannya ayam lokal kita. Hingga kini sulit untuk mencari kata ayam Broiler itu kedalam bahasa Indonesia. Ayam kampung disesuaikan dan ditempatkan sesuai asal ayam itu.



2.2.      MENGENAL AYAM KAMPUNG

A.    Asal – Usul Ayam Kampung
Ayam kampung yang diternakan berasal dari ayam hutan di Asia Tenggara. Ayam hutan merupakan nenek moyang dari ayam kampung yang berada di Pulau Jawa dan juga terdapat di pegunungan yang ketinggiannya 1000 – 1700 meter dari permukaan laut. Produktivitas ayam kampung memang melonjak rata-rata pertahun 60 butir dan berat ayam jago tua lebih kurang 1,9 kg.
Kemampuan bertelur beberapa ayam
Spesies
Rata-rata Clutch
Max Produksi/Tahun
Petelur
Pedaging
10 – 14
10 – 14
300 – 360
190 – 200


B.     Sejarah Perkembangan Ayam Kampung
Ayam kampung diteliti dari awal abad 20-an di Bogor. Seorang ahli Belanda saat itu, J. Markons dan J.F Mahede mempublikasikan ayam kedua tahun 1941.

2.3.      PERSIAPAN BETERNAK

A.    Tujuan Beternak
1)      Hanya sekedar untuk mengisi waktu luang.
2)      Hanya sekedar memanfaatkan lahan kosong.
3)      Hanya mencari nafkah.

B.     Penentu Lokasi
1)      Lokasi itu tidak jauh dari pemasaran atau tidak jauh dari produksi.
2)      Lokasi itu tidak jauh dari keramaian.
3)      Memperhatikan tatacara mempergunakan tanah dari pemerintah.
4)      Hendaknya fasilitas fisik cukup air, tidak dibawah lembah atau bukit.

C.    Sistem Produksi Berkesinambungan
1)      Memperoleh kemampuan beli dari para pengecer.
2)      Memperoleh kemampuan beli dari pedagang.
3)      Memperoleh informasi dari pasar.
Dan langkah-langkahnya adalah :
1)      Memperhatikan kemampuan ayam bertelur.
2)      Produksi pertahun di jadikan per minggu.
3)      Jauh pesanan dari pada langkah ke-2.

D.    Perencanaan Kandang
4 m      à Sistem ayam terkurung
6m       à Sistem ayam pelindung
Lebar x panjang          = luas kandang
4 x panjang                  = luas kandang
      panjang                  = luas kandang / 4

1)      Bahan Yang Digunakan
a.       Beton atau tiang besi
b.      Bambu dan balok
2)      Penempatan Kandang
Ditempatkan membujur dari utara ke selatan sehingga sisi kanan mengarah ke matahari terbit dan kiri kematahari terbenam, dengan itu pengembusan angin lebih bebas.
3)      Lingkungan Peternakan
Sebaiknya lingkungan tidak terlalu lembab, agar ayam tidak terlalu dingin ketika angin berhembus.
a.       Sistem Meminjam dari Bank
Ayam kampung bertelur diproduksi umur 5 bulan dan dikembalikan masa tenggangnya, masa cicilan dan hutangnya.
b.      Sistem Kerja Sama
Dapat dilakukan apabila telah memiliki tanah milik sendiri
4)      Perancangan Tenaga Kerja
Untuk menjual ayam perorang dapat dipelihara, itu ada 150 ekor kebawah-dewasa. Produktif cukup dipegang satu orang. Kelak apabila ayam tersebut berkembang dengan baik dan sukses. Maka hasil diperoleh penanam modal 40 % dari penanaman modal kemudian 60% dibagi kepada pekerja lainnya

2.4.      PEMELIHARAAN

A.    Sistem Pemeliharaan Ayam Kampung
1)      Sistem Ekstensif
Cara ini tidak digunakan dengan tangan manusia, melainkan dilepas begitu saja dan datang sendiri pada malam hari dengan begitu ayam bebas memilih makanannya.
2)      Sistem Semi Intensif
Cara ini baru ada sedikit campur tangan manusia. Tujuannya untuk memperoleh pengetahuan cara dan mula-mula beternak ayam.
3)      Sistem Intensif
Cara ini dilakukan sepenuhnya oleh campur tangan manusia. Ciri-ciri dari cara ini adalah diperlukannya modal tambahan dan pengetahuan, dan memperoleh hasil yang lebih baik.

B.     Kandang
·         Fungsi :
a.       Hanya tempat bermalam saja.
b.      Hanya tempat berteduh dari hujan dan panas.
c.       Fasilitasnya harus benar-benar lengkap.
·         Batasan yang perlu diperhatikan :
a.       Untuk anak dan induk ayam tiap 1 m persegi cukup 30 anak ayam.
b.      Untuk ayam yang memasuki usia telur tiap m2 cukup 16 ekor. Kurangi jumlah itu menjadi 14 ekor pada saat ayam bertelur.
c.       Untuk ayam yang bertelur tiap meter persegi 6 ekor
·         Berdasarkan sistem lantai :
a.       Sistem lantai litter
Lantai ini bertumpu pada tanah yang dipadatkan dan disemen lalu ditabur kulit padi pada lantai setebal 6 cm.
b.      Sistem lantai cage
Cara ini bertumpu langsung pada tanah, tetapi antara tanah dan lantai ada ruang untuk menampung tinja dan setelah itu terdapat lantai bambu berlubang-lubang.

C.    Pemeliharaan Anak Ayam
1)      Oleh 1 Induk
Setelah ayam menetas semua dan bulunya sudah kering maka induknya segera membawa anak ayam yang baru menetas itu keluar dari pengeraman. Bila memakai sistem pemeliharaan halaman berumur 4 – 7 hari, induknya dan anaknya dapat dilepas kehalaman.

2)      Oleh Induk Buatan
Cara ini merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan. Contoh, telur yang ditetaskan oleh induk lain yang bukan mengeluarkan telurnya. Yang bertujuan memberi kehangatan pada telur. Yang kemudian juga dapat memberi pengalaman pada induk ayam buatan

D.    Pemeliharaan Lepas Induk
Hal ini dilakukan induk ayam apabila anak ayam sudah mampu hidup sendiri. Meskipun anak ayam sudah mampu hidup sendiri induk ayam tetap menjaga apabila anaknya diganggu.
Vaksinasi tetes pada masa lepas induknya dilakukan kurang lebih 1,5 bulan sebelum bertelur. Sebagian vaksinasi yang pertama dilakukan semasa anak ayam. Kemudian dalam hal pemisahan, dapat dilakukan semenjak awal masa lepas dan yang betina dilakukan 2 minggu setelah bertelur.

E.     Perbaikan Sistem Pemeliharaan dan Produksi
Contoh cara tradisional hanya dihasilkan 30 – 40 butir telur. Sedangkan pemeliharaan yang baik dapat dicapai 160 butir per bulan.
·         Cepat atau lambatnya bertelur terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi :
1)      Kualitas dan kuantitas makanan.
2)      Cahaya matahari.
3)      Kesehatan ayam.
4)      Perawatan umum pada ayam

·         Tinggi atau rendahnya produksi telur dipengaruhi :
1)      Keturunan
2)      Makanan
3)      Pemeliharaan
4)      Penyakit

F.     Pemeliharaan Masa Bertelur
Anak ayam jantan sebaiknya diambil yang umurnya 1 – 2 bulan lebih tua dan ayam betina supaya pada masa bertelur ayam betina dapat mengkonsentrasikan diri pada telur yang dieraminya.

G.    Masa Pemanenan
Dalam pemanenan ayam akan dimasukkan pada satu bot, dan setiap bot diisi paling banyak 5 ekor, agar ayam tidak lemas. Dalam membawa ayam itu atau menstranfer ke daerah lainnya, kecepatan rata-rata mobil harus diatas 85 km/jam, dalam hal ini juga diperlukan kemahiran supir mengangkut ayam tersebut, agar ayam tidak cepat pusing.










BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
Dari tulisan-tulisan yang di cantumkan dalam “Cara-Cara Beternak Ayam Kampung”, maka bisa disimpulkan :
1.      Proses Perawatan
Perawatan yang lebih efektif juga akan menimbulkan efek terhadap ayam-ayam, kemudian setiap 1 x 5 hari kandang dibersihkan agar bulu ayam tetap bersih.
2.      Pembuatan Kandang
Proses pembuatan kandang tidak harus terlalu besar, tetapi setidaknya kandang untuk induk dibedakan pada usia anak ayam melebihi 15 hari.
3.      Langkah – Langkah Yang Harus Diingat
Ayam tidak perlu dikasih mineral setiap saat karena akan melebihi lemak pada daging-dagingnya, setidaknya mineral dicampur jika 200 ekor ayam cukup hanya 20 bks mineral. Jadi setiap jumlah ayam dibagi 10 dengan mineral.

3.2.     Saran
Untuk kegiatan yang seterusnya disarankan agar, berhati-hati melihat atau membaca susunan dari buku ini yang dianggap palsu.











DAFTAR PUSTAKA

Rasyat Muhammad. 1986. Beternak Ayam Kampung. Sindang Barang : Penebar Sajada.
F. Komar, Sopiandi. 1968. Mengenal dan Beternak Ayam. Yogyakarta-Jakarta : Dian Publishing Company.
Soeseno, Ari. 1987. Beternak Ayam. Jakarta : Penebar Swadaya.